VONIS.ID – Kamis (8/10/2026), Aliansi Mahasiswa Universitas Mulawarman (Unmul) menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung Rektorat Unmul, Samarinda.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa mendesak pihak rektorat membuka transparansi proses Pemilihan Rektor (Pilrek) serta menolak segala bentuk intervensi eksternal yang dinilai masuk ke ruang akademik kampus.
Aksi yang dimulai sekitar pukul 10.30 WITA itu, sempat diwarnai ketegangan antara petugas keamanan dan massa.
Situasi terjadi ketika mahasiswa hendak membakar ban di lokasi demonstrasi.
Namun, ketegangan tidak berlangsung lama.
Massa kemudian melanjutkan aksi dengan menyampaikan orasi dan berdiskusi bersama pihak Rektorat Unmul.
Aksi berakhir tertib sekitar pukul 12.10 WITA.
Soroti Proses Pemilihan Rektor
Humas aksi, Zaid Iman At-Tamam, mengatakan demonstrasi tersebut merupakan buntut dari rangkaian peristiwa pada pekan sebelumnya yang berkaitan dengan dinamika Pemilihan Rektor (Pilrek) Unmul.
Menurut Zaid, proses Pilrek sejauh ini dinilai mahasiswa belum memberikan transparansi informasi yang memadai.
Ia juga menyoroti adanya pihak luar yang dinilai masuk ke lingkungan kampus dan berdampak terhadap iklim akademik.
“Kami juga menolak bentuk intervensi eksternal yang kemudian tidak ada kaitannya dengan kampus hari ini,” tegasnya.
Zaid menyebut masuknya pengaruh dari organisasi kemasyarakatan maupun kelompok lain ke lingkungan perguruan tinggi sebagai persoalan yang perlu mendapat perhatian.
Tiga Tuntutan Mahasiswa
Ia mengatakan gesekan yang terjadi pada pekan sebelumnya turut berdampak terhadap aktivitas perkuliahan.
Sejumlah mahasiswa disebut mengalami hambatan dalam mengikuti kelas hingga praktikum.
Melalui aksi tersebut, Aliansi Mahasiswa Unmul menyampaikan tiga tuntutan kepada pimpinan universitas.
Pertama, mendesak rektorat mengeluarkan pernyataan resmi dalam waktu 1×24 jam terkait insiden pekan lalu.
Kedua, mahasiswa meminta proses Pilrek dibuka secara transparan.
Ketiga, mereka mendesak pihak rektorat bersikap tegas terhadap segala bentuk intervensi eksternal di lingkungan kampus.
“Kami meminta juga pihak rektorat memberikan pernyataan bahwa mereka menolak intervensi eksternal terhadap ruang-ruang kampus,” pungkas Zaid.
Sementara itu, Sekretaris Senat Unmul, Aswin memberikan penjelasan utuh mengenai seluruh tahapan proses Pilrek yang telah selesai digelar pada 30 September 2026 lalu.
Mengenai penundaan tahapan Pilrek yang sempat terjadi, Aswin menerangkan bahwa langkah tersebut diambil berdasarkan arahan kementerian akibat adanya pengaduan masyarakat.
Ia menampik anggapan bahwa Senat Unmul terpengaruh oleh tekanan luar maupun keterlibatan partai politik.
“Saya tidak tahu ormas ini bagaimana pengaruhnya. Bahkan ada yang partai politik juga masuk katanya, tapi kita tidak sampai ke sana sebenarnya,” jelasnya.
Penjelasan tersebut sekaligus menjawab sorotan mahasiswa terkait keberadaan organisasi kemasyarakatan (ormas) yang sempat menggelar aksi dan memblokir jalan akses menuju kampus.
Aswin mengimbau agar pihak luar tidak ikut campur dalam urusan internal perguruan tinggi.
“Kalau tanggapan kami sebaiknya ormas-ormas yang ada itu tidak usah ikut campur dalam kegiatan ini. Dan mereka juga sebenarnya tidak ikut campur,” tegasnya.
Janji Menjembatani dan Rektorat
Menanggapi tudingan mahasiswa mengenai sikap rektorat maupun senat yang dinilai membiarkan kehadiran ormas dan aksi pemblokiran tersebut, Aswin membantah.
Ia meminta agar tuduhan tersebut dibuktikan secara langsung kepada pihak-pihak yang terlibat di lapangan.
“Jadi kalau menuduh itu saya kira lebih baik orang yang bersangkutan dipanggil, ditanyai kan. Siapa yang mengoordinasikan Anda, seperti itu,” ujarnya.
Guna menindaklanjuti aspirasi dan poin tuntutan yang dibawa oleh Aliansi Mahasiswa Unmul, Aswin berjanji akan menjembatani komunikasi antara perwakilan mahasiswa dengan pimpinan rektorat Unmul.
“Sesuai dengan permintaan mereka, saya akan komunikasi dengan Prof. Bohari selaku WR 4 agar bisa untuk menemui mereka, seperti itu,” pungkasnya. (*)

