
VONIS.ID – Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Timur, Endar Priantoro, menyatakan pelaksanaan aksi unjuk rasa besar pada 21 April 2026 di Samarinda secara umum berjalan damai dan terkendali.
Pernyataan itu disampaikan sekitar pukul 20.15 Wita, beberapa saat setelah rangkaian aksi yang sempat diwarnai ketegangan berakhir.
Meski sebelumnya terjadi insiden dorong-mendorong hingga pelemparan oleh sebagian massa di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur, Endar menilai situasi tersebut masih dalam batas yang dapat ditoleransi.
“Pelaksanaan unjuk rasa hari ini bisa berjalan dengan damai dan tertib. Aspirasi juga sudah disampaikan di gedung DPRD dan diterima oleh pimpinan DPRD,” ujarnya kepada awak media.
Aksi yang melibatkan ribuan peserta dari berbagai elemen, mulai dari mahasiswa, organisasi masyarakat, hingga kelompok sipil, sejak awal memang berlangsung dalam dua titik utama, yakni Gedung DPRD Kaltim dan Kantor Gubernur Kaltim.
Di DPRD, massa diterima secara resmi oleh unsur pimpinan legislatif. Sementara di Kantor Gubernur, massa menyampaikan tuntutan melalui orasi panjang tanpa pertemuan langsung dengan kepala daerah.
Endar menegaskan bahwa aspirasi yang disampaikan di Kantor Gubernur tetap terpantau oleh pemerintah daerah.
Ia menyebut, Gubernur berada di kantor saat aksi berlangsung, namun tidak terjadi audiensi karena massa tidak menghendaki perwakilan masuk untuk berdialog.
“Di kantor gubernur, aspirasi teman-teman juga sudah disampaikan dan termonitor. Pak Gubernur ada di kantor, tetapi memang tidak ada pertemuan karena tidak ada kesepakatan untuk audiensi perwakilan,” katanya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjawab spekulasi publik mengenai absennya gubernur di hadapan massa. Dalam dinamika aksi, ketidakhadiran kepala daerah secara langsung sempat memicu kekecewaan demonstran yang bertahan hingga malam hari.
Memasuki petang, situasi di lapangan mengalami peningkatan tensi. Sebagian massa yang masih bertahan menunjukkan sikap lebih agresif, memicu aparat kepolisian untuk melakukan langkah pengendalian. Namun demikian, Kapolda menilai kondisi tersebut masih dalam koridor yang bisa dikendalikan.
“Untuk yang malam ini, saya rasa masih dalam tahapan yang wajar. Apa yang kita lakukan sudah sesuai standar operasional, dan semuanya bisa terkendali, aman. Tidak ada yang luka, tidak ada yang sakit,” tegasnya.
Pendekatan yang digunakan aparat, lanjut Endar, tetap mengedepankan prinsip humanis. Ia menekankan bahwa tindakan represif hanya menjadi pilihan terakhir dan tidak digunakan secara berlebihan selama situasi masih dapat dikendalikan.
Dalam proses pengamanan, aparat turut mengamankan sejumlah individu yang diduga terlibat dalam tindakan yang berpotensi mengganggu ketertiban. Namun, Endar memastikan bahwa proses hukum terhadap mereka akan dilakukan secara proporsional.
“Ada beberapa yang diamankan, tetapi masih dalam tahap pemeriksaan. Pendekatan hukum represif akan kita kendorkan. Kita lihat tingkat kesalahannya. Kalau tidak terlalu fatal, tentu akan kita pertimbangkan,” ujarnya.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa kepolisian membuka ruang pendekatan persuasif, terutama terhadap peserta aksi yang tidak melakukan pelanggaran berat. Hal ini dinilai sebagai upaya menjaga keseimbangan antara penegakan hukum dan perlindungan hak masyarakat dalam menyampaikan pendapat.
Lebih lanjut, Endar juga menegaskan bahwa pihaknya belum menerima informasi terkait rencana aksi lanjutan. Namun, ia menegaskan bahwa penyampaian aspirasi merupakan hak konstitusional yang akan tetap difasilitasi oleh aparat keamanan.
“Kalau ada aksi lanjutan, itu hak mereka. Kami sebagai petugas wajib melayani. Harapan kami, disampaikan dengan bijak, elegan, dan tidak menimbulkan gangguan kamtibmas,” katanya.
Ia juga mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk tidak terprovokasi oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, terutama yang beredar di media sosial. Menurutnya, stabilitas daerah menjadi tanggung jawab bersama.
Endar menutup pernyataannya dengan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menjaga situasi tetap kondusif. Ia menilai, meskipun sempat terjadi dinamika di lapangan, secara keseluruhan aksi tetap berjalan dalam batas yang bisa dikendalikan.
“Terima kasih kepada seluruh masyarakat, mahasiswa, dan semua pihak yang sudah berupaya menjaga Kalimantan Timur tetap damai. Semoga ke depan aspirasi bisa terus disampaikan dengan tertib seperti ini,” pungkasnya.
(tim redaksi)
