Penggalian Kabel Rusak Jalan di Samarinda, Andi Harun Minta Polisi Selidiki Dugaan Pencurian.

V
SAA • 3 menit baca • 1,192 dibaca
Bagikan:

INTI BERITA

  • VONIS.ID - Wali Kota Samarinda, Andi Harun, meminta aparat penegak hukum segera mengungkap dugaan pencurian kabel yang disertai penggalian dan kerusakan badan…
  • Hal ini disampaikan Andi Harun saat menyusuri Jalan A.M.
  • Sangaji hingga Jalan Hasan Basri, tepatnya di depan Hotel Midtown Samarinda, sekitar pukul 17.00 Wita pada Jumat (23/10/2026) sore.

VONIS.ID – Wali Kota Samarinda, Andi Harun, meminta aparat penegak hukum segera mengungkap dugaan pencurian kabel yang disertai penggalian dan kerusakan badan jalan di sejumlah titik.

Hal ini disampaikan Andi Harun saat menyusuri Jalan A.M. Sangaji hingga Jalan Hasan Basri, tepatnya di depan Hotel Midtown Samarinda, sekitar pukul 17.00 Wita pada Jumat (23/10/2026) sore.

Andi Harun berharap Kepolisian Resor Kota (Polresta) Samarinda segera mengidentifikasi pihak-pihak yang melakukan penggalian tersebut dan mengungkap apakah terdapat unsur tindak pidana.

Jika aparat menemukan pelanggaran, ia berharap proses penegakan hukum berjalan sesuai ketentuan pidana maupun perdata yang berlaku.

Sambil menunggu hasil penyelidikan aparat, Andi Harun menyampaikan keyakinannya bahwa kegiatan tersebut bukan bagian dari pekerjaan resmi pemerintah.

Ia juga menduga aktivitas itu berpotensi berkaitan dengan upaya mengambil keuntungan secara ilegal, termasuk kemungkinan pencurian kabel.

“Kami yakini bahwa ini bukan kegiatan resmi. Kami meyakini dan menduga ini kegiatan ilegal yang dilaksanakan oleh pihak-pihak yang mungkin mengambil keuntungan, diantaranya adalah pencurian kabel,” pungkasnya.

Dalam peninjauan itu, ia melihat langsung kondisi jalan yang mengalami kerusakan akibat penggalian kabel.

Andi Harun menyayangkan tindakan pihak-pihak yang melakukan penggalian tanpa koordinasi yang jelas dengan pemerintah daerah.

Menurutnya, aktivitas serupa tidak hanya terjadi di kawasan tersebut, tetapi juga ditemukan di wilayah Samarinda Seberang dan sejumlah ruas jalan lainnya.

Ia mengungkapkan, petugas di lapangan melakukan penggalian di banyak titik. Ketika masyarakat meminta penjelasan, beberapa pekerja mengaku berasal dari perusahaan telekomunikasi.

“Di Cipto Mangunkusumo juga begitu, sepanjangan lebih dari 60 titik penggalian. Dan ketika ditanya, ada yang mengaku bahwa petugas dari Telkom atau Telkomsel,” ujarnya.

Namun, Andi Harun menjelaskan bahwa hasil konfirmasi staf Pemerintah Kota Samarinda kepada pihak penyedia layanan telekomunikasi tidak membenarkan pengakuan tersebut.

Ia menduga para pelaku menggunakan atribut berupa rompi menyerupai seragam petugas untuk meyakinkan masyarakat bahwa kegiatan itu merupakan proyek resmi pemerintah atau perusahaan telekomunikasi.

Pemkot Samarinda Pastikan Tidak Ada Koordinasi

Pemkot Samarinda telah melakukan pengecekan kepada sejumlah perangkat daerah, termasuk dinas yang membidangi pekerjaan umum (PU), serta pemerintah provinsi. Hasil pengecekan tersebut tidak menemukan informasi mengenai kegiatan penggalian yang dimaksud.

“Tapi kita sudah melakukan crosscheck, apakah ada kegiatan yang diketahui oleh kawan-kawan di perangkat daerah seperti di PU? Tidak ada. Dicek juga ke provinsi, juga tidak ada,” jelasnya.

Andi Harun menegaskan bahwa kegiatan pembangunan infrastruktur, baik yang dilaksanakan pemerintah maupun badan usaha milik negara (BUMN), pada umumnya memerlukan koordinasi dengan pemerintah setempat. Karena itu, ia menilai aktivitas penggalian tanpa kejelasan izin dan koordinasi perlu mendapat perhatian serius.

Pemkot Samarinda juga telah mengantongi rekaman video yang memperlihatkan pelat kendaraan serta aktivitas puluhan pekerja. Jumlah pekerja yang terlibat bahkan diperkirakan mencapai ratusan orang, dengan sebagian kegiatan berlangsung pada malam hari.

Dampak penggalian mulai terlihat pada kondisi fisik jalan. Sejumlah lubang hanya ditutup menggunakan cor beton atau aspal dingin sehingga permukaan jalan menjadi tidak rata dan mengalami penurunan. Di satu hingga dua titik, jalan bahkan dilaporkan amblas dan telah menimbulkan korban.

Selain itu, sejumlah ruas jalan memiliki tanda lingkaran cat putih. Andi Harun menduga tanda tersebut menjadi penunjuk lokasi yang akan menjadi sasaran penggalian berikutnya.

“Ini sangat berbahaya bagi pemakai jalan, pengguna kendaraan, pengguna jalan,” katanya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kerusakan permukaan jalan dapat meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi pengendara sepeda motor yang melintas pada malam hari atau saat jarak pandang terbatas.

(*)

Penulis: SAA • Editor: Tim Redaksi