
VONIS.ID – Korea Utara kembali meningkatkan tensi keamanan regional dengan menguji coba rudal hipersonik di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Uji coba tersebut berlangsung saat Pyongyang menegaskan komitmennya untuk memperkuat kemampuan militernya.
Termasuk pengembangan senjata nuklir sebagai bagian dari strategi pencegahan perang.
Media pemerintah Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), pada Senin (5/1/2026) melaporkan bahwa negara itu meluncurkan rudal hipersonik untuk menguji kemampuan operasional sistem persenjataan terbaru.
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, menyaksikan langsung uji coba tersebut.
KCNA menyebutkan bahwa peluncuran itu bertujuan memperkuat daya tangkal strategis Korea Utara di tengah situasi keamanan internasional yang semakin tidak stabil.
Kim Jong Un Tekankan Pentingnya Daya Tangkal Nuklir
Dalam laporan tersebut, Kim Jong Un menilai pengembangan dan pengujian rudal hipersonik sebagai langkah strategis yang sangat penting.
Ia menegaskan bahwa Korea Utara harus memiliki kekuatan militer yang andal untuk menghadapi berbagai ancaman eksternal.
“Ini adalah strategi yang sangat penting untuk mempertahankan atau memperluas daya tangkal nuklir yang kuat dan dapat diandalkan,” ujar Kim, seperti dikutip KCNA.
Ia juga menyinggung krisis geopolitik global dan perubahan dinamika keamanan internasional sebagai alasan utama penguatan kemampuan militer negaranya.
Menurut KCNA, rudal hipersonik tersebut berhasil menghantam sasaran di perairan timur Korea Utara dengan jarak sekitar 1.000 kilometer dari titik peluncuran.
Meski tidak merinci jenis rudal maupun spesifikasi teknisnya, jarak tempuh itu menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan jangkauan senjata Korea Utara.
Korea Selatan Konfirmasi Peluncuran Rudal Balistik
Militer Korea Selatan mengonfirmasi bahwa Korea Utara memang meluncurkan rudal balistik ke arah laut di sebelah timurnya pada hari yang sama.
Otoritas Seoul terus memantau situasi dan berbagi informasi dengan sekutu, termasuk Amerika Serikat.
Peluncuran rudal itu bertepatan dengan kunjungan kenegaraan Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, ke China.
Kunjungan tersebut menjadi momen diplomatik penting di Asia Timur, terutama di tengah upaya menjaga stabilitas kawasan.
Uji coba rudal ini terjadi tidak lama setelah Korea Utara mengecam serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela.
Dalam pernyataan resminya pada Minggu, Pyongyang menyebut tindakan AS sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negara lain.
Serangkaian pernyataan dan aksi militer ini memperkuat sinyal bahwa Korea Utara terus mengambil sikap konfrontatif terhadap Barat.
Korea Utara menegaskan posisinya di tengah lanskap geopolitik global yang semakin kompleks.(*)
