Internasional

Di Tengah Perang yang Membara, Iran Tegaskan Tidak Akan Bernegosiasi dengan AS

VONIS.ID – Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani menegaskan secara tegas bahwa negaranya tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat (AS) meskipun ketegangan di kawasan terus meningkat tajam.

Pernyataan itu Larijani sampaikan melalui unggahan di platform X, Senin (2/3/2026).

Hal itu untuk membantah laporan media asing yang menyebut Iran membuka kanal diplomasi melalui perantara Oman.

Larijani menegaskan bahwa klaim tersebut tidak benar.

Iran menyebut akan mempertahankan sikap kerasnya terhadap AS sambil menghadapi konflik berskala besar di kawasan.

“Kami tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat,” tulis Larijani.

Pernyataan ini muncul di tengah konflik yang telah meluas setelah serangan gabungan AS dan Israel.

Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Latar Belakang Eskalasi Konflik

Konflik antara Iran dan koalisi AS–Israel meningkat secara drastis.

Hal itu setelah serangan udara yang menewaskan Ali Khamenei pada akhir Februari 2026.

Serangan tersebut memicu respons keras dari Teheran, yang meluncurkan serangan rudal dan drone balasan ke wilayah Israel serta beberapa pangkalan militer AS di Teluk.

Sejak peristiwa itu, Iran menolak ajakan negosiasi yang disampaikan oleh Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya mendorong masyarakat Iran untuk bangkit melawan pemerintahan saat ini dan mempertimbangkan pembicaraan damai dengan AS.

Trump bahkan menyatakan kesediaannya membuka dialog dengan kepemimpinan baru Iran, tetapi ajakan itu ditolak oleh Teheran.

Respons Larijani terhadap Trump dan Tuduhan AS

Larijani dalam pernyataannya juga menyerang kebijakan Trump di kawasan, menyebut tindakan Amerika sebagai bagian dari ambisi yang lebih luas yang mengorbankan nyawa pasukan AS untuk kepentingan Israel.

Ia menuduh Trump telah membawa kawasan ke dalam “kekacauan” dan menyalahkan kepemimpinan AS atas eskalasi konflik.

Pihak Iran menegaskan bahwa negaranya tidak memulai agresi tersebut dan sedang menjalankan haknya untuk membela diri.

Larijani bahkan menolak klaim bahwa negaranya pernah membuka jalur diplomatik dengan Washington, dengan tegas menyatakan bahwa semua anggapan tersebut tidak berdasarkan fakta.

Sementara itu, konflik semakin meluas di Timur Tengah dengan berbagai kelompok milisi pendukung Iran turut terlibat dalam serangan terhadap target Israel dan sekutu AS.

Pertukaran serangan telah berdampak pada kehidupan sipil dan stabilitas regional secara keseluruhan.

Meskipun ada ajakan untuk mencari solusi damai, pernyataan keras Larijani menunjukkan bahwa jalur diplomasi saat ini tertutup di tengah konflik yang semakin intens ini.

Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran global mengenai berlanjutnya konflik yang bisa berdampak lebih jauh pada keamanan dan perekonomian internasional.(*)

Show More
Back to top button