Nusantara

Insiden Dini Hari di Sungai Mahakam, KSOP Ungkap Detik-Detik Kapal Hantam Jembatan Mahulu

VONIS.ID – Perairan Sungai Mahakam kembali menjadi sorotan setelah insiden tabrakan kapal melibatkan rangkaian tugboat dan tongkang di sekitar Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu), Kota Samarinda, Minggu (25/1/2026) pagi.

Peristiwa yang terjadi pada dini hari dan kembali memicu kekhawatiran publik, sebab menyangkut keselamatan pelayaran serta keamanan salah satu infrastruktur strategis di Kalimantan Timur.

Nahkoda Kapal Patroli KSOP Samarinda KN 373, Galang Nuswantoro, memaparkan bahwa kejadian bermula sekitar pukul 05.10 WITA.

Informasi awal diperoleh dari nahkoda TB Marina yang melaporkan adanya gangguan serius saat salah satu kapal melakukan manuver di alur sungai.

“Berdasarkan keterangan dari nahkoda TB Marina, pada pukul 05.10 WITA terdapat TB Atlantik Star 23 yang sedang menggandeng tongkang dan akan melakukan pergerakan memutar,” ujar Galang saat ditemui usai melakukan penanganan di lokasi kejadian.

Namun, manuver tersebut tidak berjalan sesuai rencana. Tongkang yang digandeng TB Atlantik Star 23 justru menabrak bui tambatan.

Di area tambatan tersebut, saat itu terdapat kapal TB Karya Star serta TB Marina. Lokasi kejadian berada pada jarak sekitar 2.700 hingga 2.800 meter dari Jembatan Mahakam Ulu.

“Benturan terjadi di bui tambatan yang di situ ada TB Karya Star dan TB Marina. Akibatnya, tali bui tambat putus,” jelas Galang.

Putusnya tali bui tersebut menjadi titik awal rangkaian insiden. Kapal-kapal yang sebelumnya tertambat kehilangan daya tahan terhadap arus Sungai Mahakam yang mengalir cukup kuat.

Akibatnya, TB Karya Star dan TB Marina hanyut terbawa arus ke arah hilir.

Kondisi tersebut memperbesar risiko karena kapal-kapal yang hanyut masih dalam rangkaian operasi pengangkutan.

Dalam situasi tidak terkendali, potensi benturan dengan kapal lain maupun infrastruktur sungai menjadi sangat tinggi, termasuk dengan Jembatan Mahakam Ulu yang berada di jalur vital pelayaran.

Galang menegaskan bahwa sebelum insiden terjadi, KSOP Samarinda sebenarnya telah melakukan pengawasan intensif di kawasan Jembatan Mahakam Ulu.

Pengawasan dilakukan sebagai langkah preventif mengingat kawasan tersebut dikenal rawan akibat padatnya lalu lintas kapal, khususnya tongkang pengangkut batubara.

“Untuk pengawasan, kami dari KSOP sudah sekitar satu bulan berada di perairan Jembatan Mahakam Ulu. Kami melakukan patroli rutin terhadap kapal-kapal yang akan melintas atau melakukan pengolongan jembatan,” terangnya.

Selain patroli langsung, KSOP juga aktif melakukan pengendalian lalu lintas melalui komunikasi radio.

Setiap kapal yang melintas diimbau untuk menjaga jarak aman dan dilarang melakukan penambatan di sekitar area jembatan.

“Kami selalu mengingatkan kapal-kapal melalui radio agar tidak bertambat di dekat jembatan dan menjaga jarak. Itu sudah menjadi prosedur yang kami jalankan,” kata Galang.

Setelah menerima laporan insiden, Galang selaku nahkoda KN 373 segera mengambil tindakan cepat. Kapal patroli langsung bergerak menuju lokasi TB Marina untuk melakukan pendataan awal dan klarifikasi dengan kapten kapal yang terlibat.

“Tindakan yang saya ambil setelah menerima laporan adalah langsung bergerak ke lokasi untuk melakukan pengambilan data dengan kapten kapal. Ini penting untuk mengetahui kronologi awal kejadian,” jelasnya.

Sementara itu, proses evakuasi kapal dan pengamanan area berlangsung hingga sekitar pukul 08.00 WITA.

Setelah seluruh rangkaian kapal berhasil diamankan dan dijauhkan dari struktur jembatan, KSOP Samarinda melakukan pemeriksaan terhadap kondisi fisik Jembatan Mahakam Ulu.

“Hasil pemeriksaan kami setelah evakuasi selesai menunjukkan adanya goresan pada pick pile nomor 3 di bagian jembatan,” ungkap Galang.

Meski demikian, ia memastikan bahwa goresan tersebut tidak berdampak pada struktur utama jembatan. Secara umum, kondisi Jembatan Mahakam Ulu masih dinyatakan aman untuk digunakan.

Terkait keselamatan, Galang menegaskan bahwa insiden tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka. Baik awak kapal yang terlibat maupun pengguna jalan yang melintas di atas jembatan dipastikan dalam kondisi selamat.

“Untuk korban jiwa tidak ada. Baik dari ABK kapal maupun dari pengguna jalan jembatan,” tegasnya.

Galang juga menjelaskan bahwa kapal patroli KPLP yang bertugas di kawasan tersebut berada dalam kondisi siap operasi dengan kru yang lengkap. Total sembilan personel bertugas di atas KN 373 untuk menjalankan fungsi patroli dan pengawasan.

“Untuk kru kapal patroli, kami lengkap. Ada sembilan orang,” ujarnya singkat.

Insiden ini kembali menegaskan tingginya risiko pelayaran di Sungai Mahakam, khususnya di sekitar Jembatan Mahakam Ulu. Padatnya lalu lintas kapal, kondisi arus sungai, serta aktivitas penambatan di sepanjang alur sungai menjadi faktor yang memerlukan pengawasan ketat dan disiplin tinggi dari seluruh operator kapal.

KSOP Samarinda menyatakan akan terus melakukan evaluasi dan pengawasan guna mencegah kejadian serupa terulang.

Kepatuhan terhadap prosedur keselamatan pelayaran dinilai menjadi kunci utama untuk menjaga keselamatan publik serta melindungi infrastruktur vital di wilayah tersebut. (tim redaksi)

Show More
Back to top button