
VONIS.ID – Militer Amerika Serikat (AS) menyiapkan skenario operasi militer terhadap Iran yang bisa berlangsung berminggu-minggu jika Presiden AS Donald Trump benar-benar mengeluarkan perintah serangan.
Dua pejabat AS yang mengetahui rencana tersebut menyebut persiapan kali ini jauh lebih serius dibanding bentrokan sebelumnya antara Washington dan Teheran.
Langkah itu muncul di tengah proses diplomasi yang masih berlangsung.
Pemerintah AS tetap membuka jalur negosiasi, namun secara paralel meningkatkan kesiapan tempur di kawasan Timur Tengah.
AS Siapkan Operasi Jangka Panjang
Sumber internal menyebut Pentagon menyusun rencana kampanye militer berkelanjutan, bukan sekadar serangan terbatas seperti sebelumnya.
Militer AS mempertimbangkan serangan udara dan laut yang menargetkan fasilitas nuklir, instalasi militer, hingga infrastruktur strategis milik pemerintah Iran.
Para pejabat menilai operasi jangka panjang memberi tekanan maksimal terhadap Teheran, tetapi juga meningkatkan risiko eskalasi regional.
Iran memiliki persediaan rudal balistik dalam jumlah besar dan jaringan sekutu di berbagai negara Timur Tengah.
Sebelumnya, pada Juni lalu, AS meluncurkan operasi satu kali bertajuk Midnight Hammer dengan mengerahkan pembom siluman langsung dari wilayah Amerika Serikat untuk menghantam fasilitas nuklir Iran.
Iran merespons secara terbatas dengan menyerang pangkalan AS di Qatar.
Namun, skenario terbaru dinilai jauh lebih kompleks dan berpotensi memicu konflik terbuka.
Diplomasi Masih Terbuka
Di tengah peningkatan tensi militer, Washington tetap mengupayakan jalur diplomasi.
Utusan AS, Steve Witkoff dan Jared Kushner, dijadwalkan bertemu perwakilan Iran di Jenewa dengan Oman sebagai mediator.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan bahwa Trump masih menginginkan kesepakatan dengan Iran, meskipun ia mengakui prosesnya sangat sulit.
Iran menyatakan kesediaan membahas pembatasan program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi, tetapi menolak mengaitkan isu tersebut dengan program rudal balistiknya.
Gedung Putih menegaskan semua opsi tetap terbuka.
Juru bicara Gedung Putih menyatakan pemerintah akan bertindak sesuai kepentingan keamanan nasional AS.
Penguatan Militer di Timur Tengah
Sementara negosiasi berlangsung, Pentagon meningkatkan kehadiran militernya di kawasan.
AS mengirim satu kapal induk tambahan ke Timur Tengah, melengkapi armada yang sudah ada.
Militer juga mengerahkan ribuan personel tambahan, jet tempur, kapal perusak berpeluru kendali, serta sistem pertahanan udara.
Langkah ini memperkuat posisi tawar Washington sekaligus mengantisipasi kemungkinan serangan balasan Iran.
AS memiliki pangkalan militer di Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Turki.
Iran sebelumnya memperingatkan akan menargetkan pangkalan-pangkalan tersebut jika wilayahnya diserang.
Trump Singgung Perubahan Rezim
Berbicara seusai acara militer di Fort Bragg, Carolina Utara, Trump bahkan membuka kemungkinan perubahan rezim di Iran.
Ia menyebut perubahan tersebut bisa menjadi hal terbaik yang terjadi, meski tidak merinci siapa yang akan menggantikan pemerintahan di Teheran.
Meski demikian, Trump menunjukkan skeptisisme terhadap pengerahan pasukan darat dalam skala besar.
Para pejabat menyebut opsi paling realistis tetap berada pada serangan udara presisi, operasi laut, serta kemungkinan operasi khusus terbatas.
Di sisi lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan setiap kesepakatan dengan Iran harus menjamin kepentingan vital keamanan Israel.
Pernyataan itu menambah dimensi regional dalam ketegangan yang sudah meningkat.
Pengamat keamanan menilai operasi militer berkepanjangan berisiko memicu konflik regional yang lebih luas.
Iran tidak hanya mengandalkan kekuatan militernya, tetapi juga jaringan sekutu di berbagai negara.
Situasi ini menempatkan Timur Tengah dalam kondisi siaga tinggi.
Jika diplomasi gagal dan operasi militer benar-benar dimulai, kawasan tersebut berpotensi memasuki fase ketegangan paling serius dalam beberapa tahun terakhir. (*)

