
VONIS.ID – Israel dilaporkan mendorong Amerika Serikat (AS) untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran.
Namun, Presiden AS Donald Trump disebut lebih memilih pendekatan diplomasi untuk menekan Teheran menghentikan program nuklirnya.
Pertemuan Rahasia Jenderal AS-Israel
Pada Jumat (30/1/2026), Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, bertemu dengan Jenderal Eyal Zamir, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, di Pentagon.
Pertemuan ini tidak dilaporkan media sebelumnya dan baru terungkap pada Minggu (1/2/2026).
Zamir dilaporkan menggunakan jet pribadi agar perjalanannya tidak terdeteksi, dan berupaya membujuk AS agar menyerang Iran.
Dua pejabat AS yang tidak ingin disebut namanya membenarkan pertemuan tersebut kepada Reuters, meski mereka tidak menjelaskan detail pembicaraan.
Israel Tekan AS untuk Tindakan Militer
Setelah kembali ke Israel, Zamir menghadiri rapat keamanan yang dipimpin PM Benjamin Netanyahu bersama pejabat senior dan Direktur Mossad David Barnea.
Dalam rapat itu, Zamir memprediksi bahwa AS kemungkinan akan melancarkan serangan militer terhadap Iran “dalam dua minggu hingga dua bulan ke depan,” meski menyebut situasinya masih tidak pasti.
Seorang pejabat Israel anonim mengatakan, Trump lebih condong pada negosiasi keras dengan Iran untuk membongkar program nuklir Teheran.
Sementara itu, Tel Aviv tetap menekan AS agar melakukan serangan, dan memperingatkan konsekuensi jika Washington menahan diri.
AS Perkuat Kehadiran Militer
Dalam beberapa waktu terakhir, AS meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah dan memperkuat pertahanan udara.
Trump telah berulang kali mengancam Iran dan berupaya menekan negara itu agar duduk di meja perundingan.
Israel sendiri mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kemajuan Iran dalam memperoleh senjata nuklir dan meminta AS memperhatikan potensi ancaman tersebut.
Namun, otoritas Israel belum merilis pernyataan resmi terkait pertemuan rahasia tersebut.
Peringatan dari Iran
Sementara itu, pemimpin Iran memperingatkan bahwa setiap serangan AS dapat memicu konflik regional yang lebih luas.
Ketegangan ini menandai periode kritis bagi diplomasi dan keamanan di kawasan Timur Tengah, di tengah perbedaan strategi antara sekutu dekat AS dan kepentingan keamanan Israel. (*)
