
VONIS.ID — Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menggelar latihan kesiapsiagaan militer nasional sebagai langkah antisipatif menghadapi potensi agresi militer dari Amerika Serikat.
Latihan ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara Havana dan Washington setelah pernyataan keras Presiden AS Donald Trump pada awal Januari lalu.
Respons atas Ancaman dari Washington
Díaz-Canel menyatakan bahwa kesiapan militer menjadi kunci utama untuk mencegah agresi asing.
Ia menegaskan bahwa Kuba harus membuat pihak lawan mempertimbangkan konsekuensi serius sebelum melakukan serangan.
“Cara terbaik untuk mencegah agresi adalah membuat imperialisme harus menghitung harga yang harus dibayar jika menyerang negara kami,” ujar Díaz-Canel dalam pernyataan yang disiarkan televisi nasional Kuba pada Sabtu (24/1).
Ia menambahkan bahwa kesiapan menghadapi berbagai bentuk aksi militer menjadi semakin penting dalam situasi geopolitik saat ini.
Pernyataan tersebut ia sampaikan menyusul ancaman Trump yang menyebut Kuba “siap runtuh” dan mendesak Havana untuk “membuat kesepakatan” atau menghadapi konsekuensi seperti Venezuela.
Díaz-Canel Pantau Langsung Latihan Tempur
Mengutip laporan AFP, Díaz-Canel memantau langsung latihan militer yang melibatkan satuan tank Angkatan Bersenjata Kuba.
Presiden Kuba hadir bersama Menteri Angkatan Bersenjata Revolusioner Jenderal Álvaro López Miera serta sejumlah pejabat militer senior lainnya.
Latihan tersebut menjadi bagian dari evaluasi kesiapan pasukan darat dan kemampuan komando dalam menghadapi skenario konflik bersenjata.
Pemerintah Kuba menilai latihan ini sebagai langkah defensif untuk menjaga kedaulatan nasional.
Dewan Pertahanan Bahas Transisi Status Perang
Selain latihan militer, Dewan Pertahanan Nasional Kuba yang dipimpin Díaz-Canel juga menggelar pertemuan tingkat tinggi.
Dewan tersebut bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat kohesi di kalangan kepemimpinan negara.
Dalam pernyataannya, pemerintah Kuba menyebut dewan itu telah membahas serta menyetujui rencana dan langkah strategis untuk bertransisi menuju “Status Perang,” meski tidak merinci detail implementasinya.
Doktrin “Perang Seluruh Rakyat”
Latihan militer ini merupakan bagian dari persiapan nasional dalam kerangka doktrin strategis dengan sebutan “Perang Seluruh Rakyat.”
Konsep ini menekankan mobilisasi luas, termasuk keterlibatan warga sipil, jika terjadi konflik bersenjata.
Ketegangan meningkat setelah Trump memberi isyarat bahwa Kuba dapat menjadi target berikutnya menyusul agresi militer AS ke Venezuela pada 3 Januari lalu untuk menangkap Presiden Nicolas Maduro.
Venezuela selama ini menjadi sekutu utama Kuba sekaligus pemasok penting minyak dan bantuan keuangan.
Pemerintah AS juga mengisyaratkan dukungan Venezuela terhadap Kuba harus dihentikan, sebuah langkah yang dinilai Havana sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas nasionalnya. (*)
