
VONIS.ID – Empat gunung api di Indonesia mengalami erupsi pada Minggu (6/9/2026) pagi.
Aktivitas erupsi terjadi di Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, dan Gunung Semeru di Jawa Timur.
Erupsi tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 50 milimeter dan berlangsung selama 16 detik.
Anak Krakatau Erupsi dan Sebarkan Abu Vulkanik
Aktivitas Gunung Anak Krakatau juga menyebabkan sebaran abu vulkanik ke sejumlah wilayah.
BMKG, berdasarkan informasi PVMBG, VAAC Darwin, dan analisis citra Himawari-9, menyebut abu bergerak ke dua arah.
Sebaran pertama bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian DKI Jakarta, Banten, serta Jawa Barat.
Sebaran kedua bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup sebagian Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, dan Samudra Hindia.
Gunung Ibu Keluarkan Kolom Abu 400 Meter
Gunung Ibu di Halmahera Barat, Maluku Utara, juga mengalami erupsi pada Minggu pukul 04.55 WIT.
Badan Geologi mengamati kolom letusan setinggi sekitar 400 meter di atas puncak atau sekitar 1.725 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas sedang bergerak ke arah timur laut.
Erupsi berlangsung selama 35 detik dan terekam dengan amplitudo maksimum 15 milimeter.
Ili Lewotolok Kembali Erupsi
Gunung Ili Lewotolok di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, juga menunjukkan aktivitas erupsi.
Gunung tersebut mengalami serangkaian letusan dalam 48 jam terakhir.
Erupsi terkuat terjadi pada Minggu pukul 06.41 WITA. Kolom abu mencapai sekitar 600 meter di atas puncak atau 2.023 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu tampak berwarna kelabu tebal dan bergerak ke arah tenggara. Seismograf mencatat amplitudo maksimum 40 milimeter dengan durasi erupsi 82 detik.
Semeru Erupsi, Warga Diminta Menjauh
Gunung Semeru di Jawa Timur mengalami erupsi pada pukul 07.51 WIB.
Badan Geologi mengamati kolom abu setinggi sekitar 1.000 meter di atas puncak.
Erupsi tersebut berlangsung selama 102 detik dengan amplitudo maksimum 23 milimeter.
Badan Geologi meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak.
Masyarakat juga diminta menjauhi area 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena aliran lahar dan awan panas berpotensi meluas hingga 17 kilometer dari puncak. (*)
