
VONIS.ID – Media Iran melaporkan bahwa pemerintah Iran mempertimbangkan langkah militer terhadap kepentingan bisnis milik Elon Musk di Timur Tengah.
Kantor berita Fars menyebut Iran menyatakan berhak menyerang seluruh fasilitas yang berhubungan dengan perusahaan Musk, termasuk infrastruktur SpaceX dan layanan internet satelit Starlink.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat.
Dalam laporan yang beredar, Iran menuduh perusahaan teknologi yang beroperasi di kawasan tersebut ikut mendukung operasi militer AS.
Starlink Disebut Jadi Fokus Kekhawatiran Militer Iran
Iran menyoroti layanan Starlink sebagai salah satu sistem yang dianggap berperan dalam operasi militer modern.
Otoritas Iran menuduh jaringan internet satelit itu dapat mendukung komunikasi militer, termasuk untuk drone pengintai dan sistem senjata berbasis teknologi tinggi.
Meski demikian, pihak SpaceX belum memberikan pernyataan resmi terkait ancaman tersebut.
Starlink sendiri selama ini beroperasi sebagai penyedia internet satelit global untuk kebutuhan sipil maupun darurat di berbagai wilayah konflik.
Ketegangan AS–Iran Meningkat Setelah Serangkaian Serangan
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran meningkat setelah kedua negara melaporkan adanya serangan balasan dalam beberapa hari terakhir.
Laporan menyebut AS melakukan operasi militer sebagai respons atas insiden yang melibatkan personel militernya di kawasan Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump kemudian menyatakan bahwa pasukan Amerika telah melancarkan serangan balasan terhadap target di Iran.
Ia mengklaim operasi tersebut melibatkan penggunaan persenjataan bernilai ratusan juta dolar.
Iran merespons dengan memperingatkan akan melakukan tindakan lebih lanjut jika serangan terus berlanjut.
Situasi ini memperburuk kondisi keamanan di kawasan Teluk yang selama ini menjadi jalur strategis perdagangan energi dunia.
Ancaman Meluas ke Perusahaan Teknologi Global
Selain entitas yang terkait Elon Musk, laporan media Iran juga menyebut kemungkinan target lain mencakup perusahaan teknologi besar Amerika Serikat yang beroperasi di kawasan tersebut.
Nama-nama seperti Google, Microsoft, Apple, dan Nvidia disebut dalam peringatan yang beredar di media lokal.
Namun hingga kini, tidak ada konfirmasi independen bahwa Iran telah melakukan serangan terhadap fasilitas-fasilitas tersebut.
Para pengamat menilai pernyataan tersebut masih berada dalam konteks retorika politik dan militer yang meningkat di tengah konflik yang sedang berlangsung.
Situasi tetap berkembang cepat, dengan potensi eskalasi lebih lanjut jika kedua pihak tidak menahan diri. (*)
