
VONIS.ID – Jalan poros Rantau Pulung–Baru Ampar, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), kini mengalami kerusakan parah.
Jalan yang menjadi jalur utama pengangkutan kelapa sawit ini berubah menjadi kubangan lumpur saat hujan turun.
Akibatnya, truk pengangkut Tandan Buah Segar (TBS) sering terjebak dan kesulitan melanjutkan perjalanan.
Andi Uchi, seorang sopir truk pengangkut sawit, menyatakan, “Kalau hujan turun, jalan ini hampir tidak bisa dilalui. Banyak truk yang terjebak, bahkan harus ditarik dengan alat berat.”
Kondisi ini sudah berlangsung lama, namun hingga kini belum ada perbaikan signifikan dari pemerintah daerah.
Dampak pada Petani dan Industri
Kerusakan jalan menyebabkan proses distribusi TBS dari kebun ke pabrik terhambat.
Para petani harus menunggu lebih lama agar hasil panen mereka sampai ke pabrik.
Keterlambatan ini berisiko menurunkan kualitas TBS dan memengaruhi harga jual yang diterima petani.
Selain itu, para sopir menghadapi risiko kecelakaan dan kelelahan akibat medan jalan yang licin dan berlubang.
Pemilik armada juga menanggung biaya tambahan akibat kerusakan kendaraan yang sering terjadi.
Pabrik kelapa sawit pun merasakan dampaknya, karena pasokan bahan baku menjadi tidak stabil dan mengganggu proses produksi.
Harapan dari Forum Petani
Forum Petani Kelapa Sawit (FPKS) Kalimantan Timur melalui perwakilannya, Asbudi, mendesak pemerintah daerah segera memperbaiki jalan produksi.
Ia menekankan, kelapa sawit merupakan sektor unggulan yang menghidupi ribuan petani dan pekerja di wilayah ini.
“Kami berharap Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, khususnya Gubernur, dapat melihat langsung kondisi di lapangan dan mendorong percepatan perbaikan jalan produksi,” ujar Asbudi.
Menurutnya, perbaikan jalan bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor perkebunan sawit.
Jalan Lancar, Ekonomi Terjaga
Asbudi menambahkan, jika jalur distribusi berjalan lancar, rantai ekonomi dari petani hingga industri pengolahan akan berjalan lebih baik.
“Ini bukan hanya soal jalan rusak, tetapi menyangkut kehidupan banyak keluarga yang menggantungkan hidupnya dari sektor ini,” tegasnya.
Para petani dan pekerja perkebunan berharap pemerintah memberikan perhatian serius terhadap pembangunan infrastruktur jalan produksi.
Mereka menilai jalur pengangkutan sawit sudah selayaknya mendapat perhatian sebanding dengan kontribusi besar sektor ini terhadap pembangunan ekonomi Kalimantan Timur. (*)
