Nasional

Indonesia Kehilangan 40 Persen Hutan Mangrove, KKP Gencarkan Restorasi

VONIS.ID – Indonesia kehilangan sekitar 40 persen hutan mangrove dalam kurun waktu tiga dekade terakhir.

Kondisi tersebut mendorong Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkuat rehabilitasi ekosistem mangrove melalui restorasi berbasis kesesuaian ekologis guna memulihkan fungsi kawasan pesisir yang terus mengalami degradasi dan abrasi.

Hal itu disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono.

Trenggono menyampaikan data tersebut saat peringatan Hari Mangrove Sedunia di Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Denpasar, Bali, Minggu (26/7/2027).

Ia menjelaskan bahwa laju kerusakan mangrove di Indonesia mencapai sekitar 52 ribu hektare per tahun.

Selain itu, sekitar 19,2 persen kawasan mangrove nasional kini berada dalam kondisi kritis.

Menurut Trenggono, luas hutan mangrove Indonesia terus menyusut sejak 1980-an.

Jika sebelumnya mencapai sekitar 4,2 juta hektare, kini luasnya tinggal sekitar 3,3 juta hektare.

Abrasi dan Degradasi Jadi Ancaman

Trenggono menyebut degradasi lingkungan dan abrasi pantai sebagai penyebab utama berkurangnya kawasan mangrove di berbagai wilayah Indonesia.

Gelombang laut yang terus mengikis pesisir menyebabkan banyak kawasan mangrove mengalami kerusakan sehingga kehilangan fungsi ekologisnya.

Padahal, mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir.

Ekosistem ini melindungi garis pantai dari abrasi, menjadi habitat berbagai jenis biota laut, menopang produktivitas sektor perikanan, serta menyediakan sumber mata pencaharian bagi masyarakat pesisir.

Selain itu, mangrove juga berfungsi sebagai penyerap dan penyimpan karbon dalam jumlah besar sehingga berkontribusi terhadap upaya pengendalian perubahan iklim.

Rehabilitasi Berbasis Ekologi

Untuk mengatasi kerusakan tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus menjalankan program rehabilitasi dan restorasi mangrove.

Trenggono menegaskan pemerintah tidak hanya berfokus pada kegiatan penanaman pohon, tetapi juga memastikan rehabilitasi berlangsung sesuai dengan kondisi ekologis setiap wilayah.

Ia menilai pendekatan tersebut penting agar fungsi ekosistem mangrove dapat pulih secara optimal dan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan maupun masyarakat.

Dalam kegiatan Hari Mangrove Sedunia, KKP bersama berbagai pemangku kepentingan menanam sebanyak 15 ribu bibit bakau kurap (Rhizophora mucronata) di kawasan Ekowisata Mangrove Batu Lumbang, Tahura Ngurah Rai.

Trenggono juga mengingatkan bahwa Indonesia memiliki peran strategis sebagai salah satu negara dengan sumber daya kelautan terbesar di dunia.

Sekitar 23 persen ekosistem mangrove dunia turut menopang produktivitas perikanan dan ketahanan pangan.

Ia menegaskan keberhasilan pemulihan mangrove bergantung pada kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, masyarakat, hingga sektor swasta.

Menurutnya, sinergi melalui kebijakan terpadu, pemanfaatan ilmu pengetahuan, pemberdayaan masyarakat, penguatan pendanaan, pengawasan, dan edukasi publik menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove Indonesia. (*)

Show More
Back to top button