
VONIS.ID – Tangis Rahmawati kembali pecah saat mengingat putranya, Muhammad Raihan Saputra (10), yang meninggal di lubang tambang pada 2014.
Lebih dari satu dekade berlalu, ia masih memperjuangkan satu harapan yang sama, yakni tidak ada lagi anak yang menjadi korban lubang tambang di Kalimantan Timur (Kaltim).
Rahmawati menyampaikan hal itu saat menghadiri Seminar Nasional bertema “Guardians of the Constitution: Reimagining Democratic Accountability in Modern Governance”.
Kegiatan itu berlangsung di Ruang Teater Gedung Integrated Laboratory (I-Lab) Universitas Mulawarman, Selasa (29/9/2026).
Raihan tercatat sebagai korban ke-9 dari kecelakaan lubang tambang di Kaltim.
Berdasarkan rilis Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim yang disampaikan dalam konteks kesaksian tersebut, jumlah korban kini mencapai 55 orang.
Korban Terus Bertambah
Rahmawati mengaku kembali merasakan kepedihan ketika mendengar jumlah korban terus bertambah.
Ia mengatakan, setiap korban baru tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga yang kehilangan, tetapi juga membuka kembali luka orang tua yang pernah mengalami kejadian serupa.
“Terus terang, secara pribadi Ibu dengar semakin bertambah korban yang 55 ya, itu sangat memprihatinkan,” ujarnya.
Kasus terbaru yang ia soroti menimpa Andi Muhammad Alfarizki, siswa kelas 2 SD berusia 8 tahun.
Andi tenggelam dan meninggal dunia di lubang tambang kawasan Jalan Teluk Kedondong, RT 22, Kelurahan Sempaja Utara, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, pada Selasa (15/9/2026).
Rahmawati mengaku kecewa karena menurutnya pemerintah belum cukup mendengarkan keluhan masyarakat yang terdampak.
“Ibu juga sampai sekarang kecewa sama pemerintah tidak mau mendengari orang-orang kecil seperti kita ini,” katanya.
Minta Lubang Tambang Ditutup
Rahmawati mengenang perjuangannya mencari keadilan setelah Raihan meninggal.
Pada 2015, ia berangkat ke Jakarta untuk memperjuangkan kasus anaknya sekaligus meminta pemerintah mencegah jatuhnya korban berikutnya.
“Saya sudah menuntut kan, korban ini cukup yang ke-9 Raihan kemarin itu. Kalau bisa jangan ada lagi korban, itu keinginan Ibu. Jangan ada lagi. Ternyata pemerintah tidak mendengarkan,” jelasnya.
Meski demikian, Rahmawati menegaskan dirinya tidak menolak aktivitas pertambangan di Kaltim.
Ia hanya meminta perusahaan dan pemerintah memastikan proses pascatambang berjalan dengan baik, termasuk menutup lubang bekas galian.
“Ibu tidak melarang pertambangan. Cuma Ibu pengin mereka mengambil hasilnya itu kembali menutup lagi lubang, jangan sampai ada korban lagi kan,” katanya.
Suara Warga Kecil
Warga Bengkuring, Samarinda, itu juga meminta pemerintah segera menutup lubang tambang yang berada di sekitar permukiman.
Menurutnya, orang tua tidak selalu mampu mengawasi anak-anak sepanjang waktu, terlebih ketika mereka bermain di sekitar genangan air yang tampak aman tetapi menyimpan bahaya.
Rahmawati berharap pemerintah benar-benar mendengar suara warga dan mengambil langkah konkret agar tragedi serupa tidak kembali terjadi.
“Kalau harapan Ibu dari dulu tuh sampai sekarang, didengarlah kita ini nah istilahnya. Nyatanya sampai sekarang korban bertambah berarti mereka tidak dengar kan?,” pungkasnya. (*)
