
VONIS.ID – Wali Kota Samarinda Andi Harun menegaskan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda tidak akan menunggu instruksi pemerintah pusat maupun provinsi untuk menghadapi dampak El Niño, kekeringan, dan potensi kebakaran yang diperkirakan berlangsung hingga akhir 2026.
Ia meminta seluruh jajaran bergerak responsif dan menyiapkan langkah konkret di lapangan, mulai dari pengamanan air bersih, pertanian, kesehatan hingga ketahanan pangan.
Langkah tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Antisipasi Cuaca Ekstrem El Niño di Ruang Aruttala, Gedung Bapperida Samarinda, Senin (24/8/2026).
Wali Kota Samarinda Andi Harun memimpin rapat yang dihadiri Sekretaris Daerah Neneng Chamelia Shanti, jajaran asisten, kepala perangkat daerah, camat, lurah, BMKG, Pertamina, Perumda Tirta Kencana, Perusda Varia Niaga Samarinda dan Bulog.
Andi Harun menegaskan pemerintah tidak akan menunggu instruksi tertulis dari pemerintah pusat maupun provinsi untuk mengambil langkah.
“Kita tidak harus menunggu perintah tertulis dari pusat atau dari provinsi. Tapi semua gejala, keadaan, apalagi sudah kejadian, kita memiliki paradigma responsif,” tegasnya.
Air Bersih Jadi Prioritas
Berdasarkan proyeksi BMKG yang dibahas dalam rapat, kondisi kemarau panjang dan kering berpotensi berlangsung hingga akhir tahun dengan puncak pada Agustus hingga September.
Andi Harun meminta setiap sektor menentukan tingkat kondisi, mulai dari normal, waspada, siaga hingga kritis.
Langkah itu diperlukan agar pemerintah dapat menentukan mitigasi dan pembiayaan secara tepat.
Perumda Tirta Kencana melaporkan kondisi air bersih masih aman.
Di Palaran, kadar klorida saat pasang berada sekitar 102 PPM, masih di bawah batas perhatian sekitar 250 PPM.
Meski demikian, Pemkot Samarinda menyiapkan skenario jika kadar klorida meningkat akibat intrusi air asin.
Camat dan lurah juga diminta mendata seluruh sumber air alternatif, termasuk sumur milik masyarakat.
“Yang penting didaftar. Oh di RT sini ada sumur milik ini. Supaya pada saat kondisi siaga mungkin atau apalagi kritis, sumur-sumur itu demi untuk kepentingan orang banyak kita gunakan sebagai sumber air,” katanya.
654,5 Hektare Lahan Terdampak Kekeringan
Sektor pertanian juga mendapat perhatian. Pemkot mencatat sekitar 654,5 hektare lahan pertanian terdampak kekeringan.
Pemerintah belum mengategorikan kondisi tersebut sebagai gagal panen karena sebagian petani masih memasuki masa panen.
Namun, pemerintah mengkhawatirkan musim tanam berikutnya. Keterbatasan air dapat menghambat pengolahan lahan dan menggeser masa tanam.
Sejumlah komoditas terdampak meliputi padi, jagung, sayuran, hortikultura, singkong, ubi dan kacang.
Pemerintah menyiapkan pompa, sumur, selang, benih hingga opsi pembangunan sumur bor.
Untuk lahan yang membutuhkan penanganan cepat, pemerintah juga dapat mengerahkan mobil tangki.
Waspadai Karhutla dan Penyakit Pernapasan
Pemkot juga memperkuat patroli hotspot bersama TNI-Polri.
Camat dan lurah diminta memetakan titik air yang dapat digunakan untuk kebutuhan pertanian maupun pemadaman kebakaran.
Dinas Kesehatan melaporkan peningkatan kasus ISPA serta gangguan pernapasan seperti asma dan pneumonia.
Andi Harun meminta Dinas Kesehatan mencocokkan data tersebut dengan kondisi kualitas udara bersama Dinas Lingkungan Hidup agar pemerintah tidak keliru menentukan kebijakan.
Jaga Harga, Stok dan Rantai Pasok
Pada sektor pangan, Andi Harun meminta pemerintah menjaga tiga aspek utama, yakni harga, stok dan rantai pasok.
Ia mendorong penerapan pola tanam bertahap atau staggered planting untuk cabai agar masa panen tidak berlangsung serentak.
Pemkot juga mempertimbangkan pengembangan cold storage untuk menyimpan komoditas yang cepat rusak ketika terjadi kelebihan produksi.
Untuk pembiayaan, Andi Harun memastikan dukungan melalui Belanja Tidak Terduga (BTT) tersedia sesuai kebutuhan.
Namun, perangkat daerah harus menyusun Justifikasi Teknis (Justek) secara kuat sebelum menggunakan anggaran.
“Jadi kalian nggak usah pikirkan uang, tugas kami yang pikirkan uang. Kerja aja yang benar,” ujarnya.
Andi Harun menutup arahannya dengan meminta seluruh jajaran menjaga kekompakan dalam menghadapi dampak El Niño.
“Ini betul-betul cara kita untuk mencintai Samarinda,” pungkasnya. (*)
