
VONIS.ID – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa konflik antara negaranya dengan Amerika Serikat (AS) tidak lagi terbatas pada serangan militer, tetapi telah meluas ke sektor ekonomi yang secara langsung memengaruhi mata pencaharian dan kesejahteraan rakyat Iran.
Pezeshkian menyampaikan pernyataan tersebut dalam pertemuan Dewan Yudisial Tertinggi Iran pada Senin (19/7).
“Kenyataannya adalah bahwa saat ini Republik Islam Iran terlibat dalam perang skala penuh. Perang saat ini bukan hanya perang rudal. Musuh telah menyimpulkan bahwa mereka tidak dapat memaksa rakyat Iran untuk menyerah melalui serangan militer,” ujar Pezeshkian seperti dikutip kantor berita IRNA.
Tekanan Ekonomi Jadi Tantangan Utama
Presiden Iran menilai tekanan ekonomi menjadi ancaman terbesar bagi stabilitas nasional.
Ia menegaskan bahwa pemerintah harus menjaga kondisi ekonomi agar masyarakat tidak semakin terbebani oleh inflasi, pengangguran, dan menurunnya daya beli.
“Perekonomian dan mata pencaharian rakyat adalah arena konfrontasi terpenting dengan musuh,” katanya.
Pezeshkian juga mengingatkan bahwa kesulitan ekonomi dapat memicu ketidakpuasan sosial.
Menurutnya, pemerintah tidak boleh membiarkan masyarakat terus menghadapi persoalan pengangguran, kemiskinan, dan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ia menilai tekanan ekonomi yang berkepanjangan berpotensi menggerus kepercayaan publik terhadap negara apabila tidak segera ditangani melalui kebijakan yang tepat.
Kohesi Nasional Jadi Prioritas
Dalam pertemuan dengan para pemimpin media pada bulan sebelumnya, Pezeshkian menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kohesi nasional di tengah meningkatnya tekanan dari luar negeri.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tetap bersatu menghadapi situasi yang semakin kompleks.
Sejak konflik meningkat, Amerika Serikat dilaporkan melanjutkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta melancarkan serangan ke sejumlah infrastruktur penting, termasuk jalan raya, rel kereta api, jembatan, dan terowongan.
Kondisi tersebut memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas ekonomi Iran. Sejumlah sektor mengalami perlambatan, sementara tingkat pengangguran terus meningkat.
Data resmi Iran juga menunjukkan tekanan ekonomi semakin berat.
Pada Juni lalu, tingkat inflasi tahunan di laporkan mencapai 88 persen, sedangkan nilai mata uang rial kembali melemah hingga menyentuh titik terendah baru.
Pemerintah Iran kini berupaya mempertahankan stabilitas ekonomi sekaligus menjaga dukungan masyarakat di tengah konflik yang masih berlangsung.
Pezeshkian menegaskan bahwa keberhasilan menghadapi tekanan ekonomi akan menjadi faktor penting dalam mempertahankan ketahanan nasional selama konflik dengan Amerika Serikat terus berlanjut. (*)

