
VONIS.ID – Wali Kota Samarinda, Andi Harun memaparkan langsung tentang Sarung Samarinda yang menjadi faktor penting yang kian menguatkan posisinya di tiga besar nasional Anugerah Kebudayaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Tahun 2026.
Presentasi tersebut menegaskan keseriusan Pemerintah Kota Samarinda dalam menjadikan warisan budaya lokal sebagai identitas sekaligus fondasi pembangunan daerah.
Dalam ajang bergengsi tingkat nasional itu, Andi Harun bersaing dengan Walikota Malang Wahyu Hidayat dan Walikota Mataram Mohan Roliskana. Ketiganya memiliki nilai dedikasi kuat terhadap pemajuan kebudayaan di daerah masing-masing.
Namun, dalam memaparkan langsung narasi Sarung Samarinda oleh Andi Harun secara komprehensif menempatkan Samarinda sebagai salah satu daerah dengan konsep budaya yang utuh dan berkelanjutan.
Anugerah Kebudayaan PWI Pusat merupakan bentuk apresiasi kepada kepala daerah yang konsisten menghadirkan kebijakan nyata dalam melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan kebudayaan untuk kesejahteraan masyarakat.
Sarung Samarinda Jadi Fokus Utama Presentasi Nasional
Dalam sesi presentasi dan pendalaman program yang bertempat di Jakarta pada 8–9 Januari 2026, Andi Harun memilih Sarung Samarinda sebagai fokus utama. Ia menilai ini tidak sekadar produk tradisional, tetapi simbol perjalanan sejarah dan identitas masyarakat Kota Tepian.
Andi Harun kehadiralannya langsung karena materi yang akan Ia sampaikan berkaitan langsung dengan visi kepemimpinan dan arah kebijakan kebudayaan Kota Samarinda.
“Saya akan presentasi langsung karena ini tidak bisa diwakilkan. Fokus yang kita angkat adalah Sarung Samarinda. Ini bukan hanya cerita masa lalu, tetapi identitas Kota Samarinda di masa kini dan masa depan,” ujar Andi Harun.
Dalam presentasinya di hadapan dewan juri, Andi Harun juga menyinggung tantangan besar yang harus Sarung Samarinda hadapi di tengah arus perubahan zaman dan industrialisasi tekstil.
Ia menjelaskan bahwa masifnya produksi tekstil modern, perubahan selera generasi muda, serta tuntutan pasar global membuat Sarung Samarinda berada dalam posisi rentan terhadap komersialisasi yang berlebihan.
“Tekstil diproduksi secara masif, sementara generasi muda terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Di situ Sarung Samarinda berada pada posisi yang rentan dalam arus komersialisasi,” ujar Andi Harun pada Jumat (9/1/2026) di jakarta.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa tantangan tersebut tidak boleh menjadi penyesalan. Sebaliknya, pemerintah daerah harus hadir melalui kebijakan yang tepat untuk meminimalkan kesenjangan antara pelestarian nilai budaya dan tuntutan ekonomi.
“Tantangan ini tidak bisa kita sesali. Justru untuk meminimalkan gap itu, tantangan harus kita hadapi dengan kebijakan yang berpihak, terukur, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Menurut Andi Harun, kebijakan menjadi kunci agar Sarung Samarinda tetap hidup sebagai identitas budaya, sekaligus mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai filosofis dan historisnya di tengah dinamika industri kreatif
PWI Nilai Kebijakan Pemkot Samarinda Konsisten
Dewan juri Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 menilai Pemerintah Kota Samarinda konsisten menghadirkan kebijakan yang berpihak pada pelaku budaya. Penilaian akan secara objektif dengan melibatkan unsur pers, akademisi, dan pegiat budaya.
Aspek yang menjadi perhatian utama meliputi keberpihakan anggaran, kesinambungan program, serta dampak kebijakan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Dalam konteks ini, Sarung Samarinda mampu menjadi contoh bagaimana warisan budaya berkembang tanpa kehilangan nilai aslinya.
Dalam proses seleksi, PWI Pusat menetapkan sepuluh kepala daerah terbaik nasional sebagai finalis. Dari sepuluh finalis tersebut, tiga walikota berhasil masuk tiga besar, termasuk Walikota Samarinda Andi Harun.
Dorong Jadi Pusaka Nasional
Melalui ajang Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026, Andi Harun juga membawa misi jangka panjang, yakni memperoleh pengakuan sebagai Anugerah Pusaka Nasional. Ia optimistis target tersebut dapat tercapai karena adanya dukungan narasi budaya yang kuat serta kebijakan pemerintah daerah yang berkesinambungan.
“Kami optimis karena narasinya sudah kuat. Jika Sarung Samarinda mendapat pengakuan sebagai pusaka nasional, ke depan bukan tidak mungkin statusnya hingga ke level internasional, termasuk UNESCO,” kata Andi Harun.
Sarung Samarinda Dorong Ekonomi Kreatif Daerah
Selain sebagai identitas budaya, Sarung Samarinda juga menjadi penggerak ekonomi kreatif. Pemkot mendorong inovasi desain, diversifikasi produk, serta perluasan pasar agar Sarung Samarinda mampu bersaing di tingkat nasional dan internasional.
Pemaparan itu sejalan dengan tema Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026, yakni “Pemajuan Kebudayaan Daerah yang Inklusif dan Berkelanjutan, Berbasis Media dan Pers.
Media massa dipandang memiliki peran strategis dalam memperkuat promosi budaya lokal kepada publik luas.
Menanti Pengumuman di HPN 2026
Puncak Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 akan bertepatan dengan peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Provinsi Banten pada 9 Februari 2026. Pada momen tersebut, PWI Pusat akan mengumumkan penerima penghargaan utama dari masing-masing kategori.
Pemkot Samarinda menilai capaian ini membuktikan Sarung Samarinda hidup, relevan, dan berpotensi menjadi sumber kesejahteraan masyarakat.”
(Redaksi)
