
VONIS.ID – Presiden Prabowo Subianto menyiapkan langkah baru untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Setelah mengandalkan minyak kelapa sawit sebagai bahan baku biodiesel B50, pemerintah kini mulai membidik batu bara untuk diolah menjadi bensin sebagai upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar.
Prabowo menyampaikan rencana tersebut saat menghadiri acara Syukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor di Jawa Timur.
Ia mengatakan pengembangan energi alternatif itu lahir dari riset dan inovasi akademisi Indonesia, khususnya para ahli dari fakultas teknik.
“Profesor-profesor kita yang pintar, yang benar pintarnya ya, bukan yang profesor tadi itu. Dari fakultas-fakultas teknik kita sudah berhasil bikin solar dari kelapa sawit, dan sudah bisa membikin bensin dari kelapa sawit, dan kita juga nanti akan bikin juga bensin dari batu bara,” ujar Prabowo.
B50 Hentikan Impor Solar
Prabowo juga menyoroti perkembangan program biodiesel berbasis minyak sawit.
Pemerintah menjalankan kebijakan B50 dengan mencampurkan biodiesel berbasis sawit hingga 50 persen ke dalam solar.
Menurut Prabowo, program tersebut telah membuat Indonesia menghentikan impor solar sejak 1 Juli 2026.
Pemerintah menilai capaian itu menunjukkan kemampuan Indonesia memanfaatkan sumber daya domestik untuk memenuhi kebutuhan energi nasional.
“Kita mulai 1 Juli yang lalu kita tidak impor solar dari luar negeri. Solar kita sekarang sudah mandiri,” ujar Prabowo.
Prabowo menilai ketergantungan terhadap impor energi dapat meningkatkan risiko ketika pasar global menghadapi gangguan.
Konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok dapat menghambat ketersediaan bahan bakar, bahkan ketika negara memiliki kemampuan finansial untuk membelinya.
“Hari-hari ini solar langka di dunia, kita punya uang pun mungkin tidak ada barangnya. Alhamdulillah, kita sudah bisa produksi solar kita sendiri. Dari mana? Dari kelapa sawit,” katanya.
Pemerintah Kembangkan Sumber Energi Domestik
Pemerintah selanjutnya ingin memperluas pemanfaatan sumber daya dalam negeri sebagai bahan baku energi.
Selain sawit, pemerintah membuka peluang mengolah batu bara menjadi bahan bakar cair, termasuk bensin.
Pengembangan bensin dari batu bara membutuhkan teknologi pengolahan khusus agar batu bara dapat dikonversi menjadi bahan bakar cair.
Pemerintah perlu mengembangkan teknologi tersebut sekaligus menghitung aspek keekonomian, kebutuhan investasi, ketersediaan bahan baku, dan dampak lingkungan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada impor BBM sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam domestik. (*)
