
VONIS.ID – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memberi Iran ultimatum keras buka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam atau hadapi serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Teheran.
Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, hampir tertutup total sejak awal konflik yang pecah pada 28 Februari 2026.
Iran Balas Ancaman AS
Militer Iran merespons dengan tegas.
Komando Operasional Khatam Al-Anbiya mengancam menutup sepenuhnya Selat Hormuz jika Amerika Serikat menyerang pembangkit listrik negara itu.
“Selat akan tetap tertutup sampai pembangkit listrik kami yang hancur di bangun kembali,” kata juru bicara militer Iran dalam pernyataan yang di siarkan televisi pemerintah.
Selain itu, militer Iran menyatakan siap menyerang “pembangkit listrik, energi, dan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (TIK)” Israel, serta fasilitas di negara-negara yang menampung pangkalan AS.
Langkah tersebut disebut sebagai upaya membela kedaulatan dan kepentingan nasional Iran.
Lalu Lintas Kapal Nyaris Terhenti
Selat Hormuz menjadi jalur kritis bagi perdagangan minyak dan gas global. Sebelum konflik,
selat ini menyalurkan sekitar 20% minyak mentah dan gas alam cair dunia.
Namun sejak perang meletus, lalu lintas kapal menurun drastis.
Data perusahaan analisis Kpler menunjukkan hanya sekitar lima persen kapal yang bisa melewati jalur tersebut di banding volume normal.
Iran tetap mengizinkan beberapa kapal dari negara yang dianggap bersahabat untuk melintas, tetapi memperingatkan bahwa kapal dari negara yang mendukung “agresi” terhadapnya akan di blokir.
Parlemen Iran bahkan mempertimbangkan penerapan bea masuk untuk pelayaran melalui selat, yang menurut Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, “tidak akan kembali ke status sebelum perang.”
Eskalasi Konflik di Timur Tengah
Perang yang di picu serangan AS–Israel terhadap Iran telah menyebar ke seluruh kawasan Timur Tengah.
Iran membalas dengan serangan drone dan rudal terhadap Israel dan kepentingan AS di wilayah tersebut.
Ancaman Iran kini meluas ke infrastruktur energi dan air di negara-negara Teluk yang terkait dengan AS.
Ketegangan ini mendorong harga minyak global melonjak, memicu kekhawatiran ekonomi internasional.
Para analis menilai konflik ini dapat memicu krisis energi lebih luas jika Selat Hormuz tetap tertutup.
Dampak Global
Ultimatum Trump dan balasan Iran menempatkan dunia pada titik kritis.
Selat Hormuz tetap menjadi fokus geopolitik dan ekonomi, di mana keputusan kedua negara dapat memengaruhi harga energi dan stabilitas regional.
Dunia kini menanti apakah Iran akan membuka kembali jalur pelayaran atau mempertahankan posisinya, sementara AS bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi militer lebih lanjut. (*)
