
VONIS.ID – Hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang mencatat penurunan elektabilitas Presiden Prabowo Subianto tidak mengubah sikap Istana.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah tidak menjadikan survei sebagai target utama dalam menjalankan pemerintahan.
Menurut dia, Presiden Prabowo bersama jajaran kementerian dan lembaga bekerja untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, bukan sekadar mengejar peningkatan angka elektabilitas.
“Sejak awal selalu kami sampaikan bahwa kami bekerja bukan dalam rangka mencari survei,” ujar Prasetyo, Kamis (30/7/2026)
Prasetyo menegaskan pemerintah meyakini berbagai program yang dicanangkan Presiden Prabowo memiliki manfaat bagi rakyat.
Karena itu, seluruh kementerian dan lembaga akan terus melaksanakan kebijakan yang telah dirancang sejak awal pemerintahan.
Ia menyebut pemerintah memiliki tujuan besar untuk membawa Indonesia menjadi negara yang lebih maju, sejahtera, dan mandiri.
Sejumlah sektor yang menjadi perhatian pemerintah meliputi ketahanan pangan, energi, industrialisasi, serta percepatan hilirisasi.
SMRC Catat Penurunan Elektabilitas Prabowo
Sebelumnya, Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survei bertajuk “Elektabilitas Calon-calon Presiden” pada Rabu (29/7/2026).
Survei tersebut menunjukkan perubahan signifikan dalam simulasi pemilihan presiden jika pemilu digelar saat ini.
Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani menyampaikan bahwa Prabowo Subianto berada di posisi kedua dengan tingkat dukungan sebesar 14,5 persen.
Dalam simulasi tersebut, Prabowo berada di bawah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang memperoleh dukungan 35 persen.
Deni menjelaskan elektabilitas Prabowo mengalami penurunan dalam sembilan bulan terakhir.
Pada survei November sebelumnya, tingkat dukungan terhadap Prabowo mencapai 34,9 persen.
Angka itu kemudian turun menjadi 14,5 persen pada survei Juli 2026.
Sebaliknya, elektabilitas Dedi Mulyadi meningkat dari 19,7 persen menjadi 35 persen dalam periode yang sama.
Survei Melibatkan 749 Responden
SMRC menjelaskan survei tersebut melibatkan 749 warga Indonesia yang memiliki hak pilih.
Peneliti memilih responden secara acak untuk menggambarkan kondisi opini publik secara nasional.
Sebanyak 83,8 persen responden mengikuti wawancara melalui telepon, sedangkan 16,2 persen lainnya diwawancarai secara tatap muka.
Komposisi tersebut disesuaikan dengan perbandingan pengguna telepon seluler dan masyarakat yang tidak menggunakan telepon.
SMRC menyebut survei berlangsung pada 5–19 Juli 2026 dengan tingkat margin of error sekitar 3,7 persen.
Meski hasil survei menunjukkan perubahan dukungan politik, pemerintah memastikan tetap menjalankan agenda pembangunan dan menilai keberhasilan program akan menjadi ukuran utama penilaian masyarakat terhadap pemerintahan Presiden Prabowo. (*)

