
VONIS.ID – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda meresmikan operasional insinerator di Kampung Baqa, Samarinda Seberang, Selasa (30/6/2026), sebagai bagian dari pengoperasian 10 unit insinerator yang ditargetkan mampu mengurangi timbunan sampah hingga sekitar 160 ton per hari.
Fasilitas tersebut menjadi solusi sementara sebelum proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) mulai beroperasi.
Selain meresmikan operasional insinerator, Pemkot juga menggelar penanaman pohon sebagai bentuk kampanye pelestarian lingkungan sekaligus mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga kebersihan kota.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, mengatakan keberadaan insinerator menjadi solusi jangka pendek untuk mengurangi timbunan sampah sebelum proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PSEL) mulai beroperasi.
Menurutnya, pemerintah pusat telah menetapkan Samarinda sebagai salah satu daerah yang akan membangun PSEL.
Pemerintah kota juga telah menyiapkan lahan sesuai kebutuhan yang diminta pemerintah pusat sehingga saat ini tinggal menunggu tindak lanjut dari pemerintah setelah adanya penyesuaian kebijakan dan pergantian menteri.
“Lokasi pembangunan PSEL di Samarinda sudah diputuskan. Lahannya juga sudah kami siapkan sesuai permintaan pemerintah pusat. Saat ini kami tinggal menunggu tindak lanjut setelah adanya pergantian menteri dan kebijakan teknis berikutnya,” kata Andi Harun.
PSEL Masuk Program Prioritas Nasional
Andi Harun menjelaskan pemerintah pusat melalui tim percepatan yang dibentuk Presiden telah membahas percepatan pembangunan PSEL di sejumlah daerah, termasuk Samarinda.
Hal tersebut menunjukkan bahwa proyek pengolahan sampah menjadi energi tersebut masih menjadi bagian dari program prioritas nasional.
Ia menambahkan Pemkot Samarinda juga telah menjalin kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara untuk memenuhi kebutuhan pasokan sampah sebagai bahan baku operasional PSEL.
Melalui kerja sama tersebut, kedua daerah menargetkan pasokan sekitar 1.000 ton sampah per hari.
Volume tersebut dinilai cukup untuk mendukung operasional pembangkit listrik berbasis sampah ketika proyek tersebut mulai berjalan.
“Intinya Samarinda sudah menjadi salah satu daerah di Indonesia yang akan dibangun PSEL. Kerja sama dengan Kutai Kartanegara juga sudah dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan sampah sekitar seribu ton per hari,” ujarnya.
Kapasitas Pengolahan Capai 160 Ton per Hari
Sambil menunggu pembangunan PSEL, Pemkot mengoptimalkan pengoperasian insinerator di berbagai lokasi.
Setiap unit memiliki kapasitas pengolahan sekitar delapan ton sampah per hari dalam satu shift kerja.
Apabila dioperasikan selama dua shift, kapasitas pengolahan meningkat menjadi sekitar 16 ton per hari untuk setiap unit.
Dengan asumsi seluruh 10 insinerator bekerja dua shift, maka total kapasitas pengolahan dapat mencapai sekitar 160 ton sampah setiap hari.
Menurut Andi Harun, angka tersebut cukup signifikan untuk mengurangi timbunan sampah harian Kota Samarinda yang saat ini mencapai sekitar 600 ton per hari.
Ia juga membuka peluang penambahan jam operasional hingga tiga atau empat shift apabila kondisi sumber daya manusia dan kesiapan mesin memungkinkan.
Namun, pemerintah tetap mengutamakan efektivitas operasional dan ketahanan peralatan agar pelayanan dapat berlangsung secara berkelanjutan.
“Yang paling penting minimal delapan ton per hari untuk satu shift sudah bisa tercapai. Kalau nanti memungkinkan ditambah shift, tentu pengurangan sampah akan semakin besar,” katanya.
Teknologi Insinerator Terus Dievaluasi
Menanggapi adanya sejumlah daerah yang menghentikan penggunaan insinerator karena persoalan lingkungan, Andi Harun menegaskan teknologi yang digunakan di Samarinda memiliki sistem yang berbeda.
Ia menjelaskan insinerator tersebut tidak menggunakan cerobong asap seperti teknologi konvensional.
Sistem pembakarannya memanfaatkan pendinginan menggunakan air sehingga diharapkan dapat menekan emisi yang dihasilkan selama proses pembakaran.
Meski demikian, Pemkot tetap melakukan evaluasi secara berkala untuk memastikan teknologi tersebut bekerja sesuai standar lingkungan.
Pemerintah daerah juga siap mengikuti seluruh kebijakan yang ditetapkan pemerintah pusat apabila di kemudian hari diperlukan penyesuaian terhadap sistem operasional.
“Kalau pemerintah pusat memerintahkan berhenti, kita berhenti. Kalau diminta melakukan penyesuaian, tentu akan kita laksanakan,” ujar Andi Harun.
Pemkot Perkuat Edukasi Pemilahan Sampah
Plt Dinas Lingkungan Hidup Samarinda, Suwarso, mengatakan seluruh insinerator sebenarnya telah mulai beroperasi sejak sepekan terakhir.
Hanya satu lokasi di Tani Aman yang sempat mengalami kendala pasokan air, namun persoalan tersebut telah diatasi melalui sambungan sementara dari fasilitas kelurahan.
Menurut Suwarso, asap yang masih terlihat selama proses pembakaran bukan berasal dari gangguan mesin, melainkan akibat masih banyaknya sampah basah yang masuk ke ruang bakar. Kondisi tersebut menyebabkan proses pembakaran belum berlangsung secara optimal.
Ia menjelaskan hasil uji kualitas udara menunjukkan emisi yang dihasilkan masih berada di bawah ambang baku mutu sehingga operasional insinerator tetap dinyatakan aman.
Ke depan, Dinas Lingkungan Hidup akan terus memperkuat pemilahan sampah sejak dari sumbernya.
Di setiap lokasi insinerator telah tersedia Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang berfungsi memisahkan sampah bernilai ekonomi, sampah organik, dan residu.
Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi akan disalurkan ke bank sampah, sedangkan sampah organik diolah menjadi kompos.
Hanya sampah residu yang tidak dapat dimanfaatkan lagi yang akan dibakar menggunakan insinerator atau dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Untuk mendukung perubahan perilaku masyarakat, Pemkot juga memperluas program Sedekah Sampah di seluruh kecamatan.
Melalui program tersebut, warga yang menyerahkan sampah anorganik seperti botol plastik, kardus, dan kertas akan memperoleh paket sembako hasil kolaborasi pemerintah dengan sejumlah perusahaan dan lembaga.
Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat agar membiasakan memilah sampah sejak dari rumah.
Dengan dukungan teknologi pengolahan sampah dan partisipasi masyarakat, Pemkot Samarinda menargetkan pengurangan timbunan sampah dapat berjalan lebih efektif sembari menunggu PSEL beroperasi sebagai solusi jangka panjang. (*)

