
VONIS.ID – Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara terhadap Iran setelah dua prajurit militernya tewas dalam serangan yang melibatkan rudal balistik dan pesawat nirawak Iran di Yordania.
Pemerintah Washington menyebut operasi tersebut sebagai tindakan balasan untuk menghukum pihak yang bertanggung jawab atas kematian personel militernya.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pasukannya telah memulai serangan udara baru terhadap sejumlah sasaran di Iran.
Dalam pernyataannya, CENTCOM mengatakan operasi itu bertujuan mengurangi kemampuan Iran dalam mengancam jalur pelayaran internasional, khususnya di kawasan Selat Hormuz.
“Serangan-serangan ini dirancang untuk melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz dan menghukum pasukan Garda Revolusi Islam yang melancarkan serangan terhadap anggota militer Amerika di Yordania,” kata CENTCOM melalui unggahan di media sosial X.
Dua Tentara AS Tewas, Beberapa Lainnya Terluka
Sebelum melancarkan serangan balasan, CENTCOM mengumumkan bahwa dua anggota militer Amerika Serikat tewas ketika pasukan AS dan sekutunya menghadapi serangan Iran.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu insiden paling serius yang melibatkan korban jiwa tentara Amerika akibat serangan Iran dalam beberapa waktu terakhir.
Selain dua korban meninggal, satu personel militer AS dilaporkan masih hilang.
Sementara itu, empat anggota militer lainnya mengalami luka dan telah dievakuasi ke rumah sakit di Yordania untuk mendapatkan perawatan.
Hingga kini, pihak militer Amerika Serikat belum mengungkap identitas prajurit yang gugur maupun menjelaskan secara rinci proses pencarian terhadap personel yang hilang.
Iran Ancam Perluas Operasi Militer
Di tengah meningkatnya ketegangan, Iran memperingatkan Amerika Serikat agar menghentikan serangan terhadap wilayahnya.
Teheran menyatakan akan memperluas operasi militer jika Washington terus melancarkan serangan.
Pejabat senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, mengatakan Iran dapat memasuki fase operasi serangan berskala penuh apabila konflik terus berlanjut.
Menurut Rezaei, Iran tidak akan membatasi responsnya hanya pada tindakan pembalasan yang bersifat terbatas.
Ia juga menuding Amerika Serikat telah menyerang infrastruktur sipil Iran dan meminta Washington memberikan kompensasi finansial.
Namun, pemerintah Amerika Serikat membantah tuduhan tersebut. Washington menyatakan pihaknya tidak secara sengaja menargetkan fasilitas sipil dalam operasi militernya.
Ketegangan antara kedua negara kini semakin meningkat dan menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah, terutama terkait keamanan jalur energi global di sekitar Selat Hormuz. (*)
